Sample Text

Rabu, 02 Oktober 2013

Cerpen




Tak Jodoh
 Karya Diana Febriani

Teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet bel masuk berbunyi semua siswa-siswi SMK NUSANTARA berlarian masuk keruang kelas masing-masing.
“Pagi semuanya” ucap Difa menyapa teman-teman sekelassnya.
“Pagi juga Dif” kata salah satu temannya.
Difa kemudian menuju ke bangkunya yang berada ditengah.
“Pagi Nani”
“Pagi juga Difa”
“Kamu kayaknya kok gembira emangnya ada apa sih Dif” tanya Nani kepada Difa
“Nggak ada apa-apa kok” jawab Difa
“Beneran Nggak ada apa-apa?” tanya Nani penasaran.
“Hu’umz ”  jawab Difa sambil melihat wajah seseorang yang berada dipojok depan sebelah kanan.
Seseorang itupun tersenyum dengan Difa. Dia adalah Khafi pacar Difa waktu kelas 1-3 SMK. Khafi adalah seorang anak Kyai Besar. Sedangkan Difa adalah seorang wanita yang tomboy dan semua laki-laki dikelasnya takut sama DIfa  kecuali Khafi yang sangat mencintai Difa. Karena dimata Khafi, Difa adalah sesosok kepribadian yang perhatian kepada teman yang kurang popular dan berbicara blak-blakan jika itu memang salah,
“Ada PR  Nggak Ni” tanya Difa
“Ada” jawab Nani sambil mencari-cari sebuah buku.
“Yang mana” tanya Difa kebingungan.
“Ini lho PR nya” sambil membuka lembaran-lembaran halaman.
“Oh ya aku lupa, kalau ada PR Bahasa Inggris, aku pinjem bentar ya, soalnya aku lupa ngerjain nih” Pinta Difa sambil merengek-rengek.
“Selalu gitu deh kamu tu, lupa ngerjain kalau ada PR, kamu tau nggak guru yang ngajar Bahasa Inggris ini killer habissss, bisa-bisa kalau kamu lupa ngerjain, kamu disuruh lari 100 x”
“Iya deh, makasih ya my friend sudah mengingatkanku, kamu baik deh, boleh pinjam bukunya nggak” pinta Difa sambil memohon.
“Maunya”
“Boleh ya???...Please”
“Hu’umz” sambil menyodorkan buku Bahasa Inggris. “Kamu tu ya selalu membuat aku merasa kasihan”
“Heheheh.. Kamu baik deh”
“Ya dunk, siapa dulu Nani gitu lhoh”
“Huuuuuh , ya deh”
“Hahahahaha”
Keduanyapun tertawa, bercanda bersama mengisi suasana pagi hari yang indah.
***
Pagi telah berlalu bergantian bergesernya matahari berada di tengah-tengah, tanda sudah siang dan menunjukkan pukul 12.00. Tingtongtingtong tanda bel pulang sekolah sudah selesai, murid-murid beserta guru meninggalkan sekolah kecuali Difa,Nani,Khafi & Dito teman Khafi. Yng sudah janjian untuk bertemu sepulang sekolah nanti.
“Hei, sini lho” teriak Dito kepada Difa dan Nani.
Difa dan Nani kemudian bergegas menuju kearah Dito sambil melangkahkan kaki penuh gembira.
“Ada apa kok minta ketemuan disini” tanya Difa kepada Khafi.
“Aku cuman mau ngasih ini”
“Apa?” Dengan nada suara Difa  yang lembut.
“Buka aja”
Devi penasaran dan membuka kado itu “Ah boneka Angry Bird” Kebahagiaan terpancar diwajah Difa.
“Maakasih ya, I LOVE YOU”
“I LOVE YOU TOO”
“Aku pulang dulu ya, kayaknya aku sudah dijemput kakakku” Dengan berat hati Difa meninggalkan Khafi.
“Hu’umz, nggak apa-apa, ati-ati dijalan ya”
“Ea, maksih hadiahnya”
“Sama-sama”
“Assalamualaikum”
 “Wa’alaikumsalam”
Devi meninggalkan Khafi dan Dito yang berada di taman sekolah. Setelah berjalan cukup jauh , melewati koridor-koridor sekolah,  Khafi dan Dito sudah tak terlihat lagi. Terbesit pertannyaan satu demi satu dihati Nani. Nani pun memberanikan diri untuk memulai percakapan antara dia & Difa.
“Sudah 3 tahun kamu pacaran sama Khafi apa nggak pernah jalan bareng atau pergi bareng ma dia” tanya Nani.
“Pernah”
“Kapan”
“Waktu bakti sosial kelas 2 dulu, sama waktu piknik ke Jakarta dulu”
“Bukan yang itu, maksudnya jalan berduaan perrgi ke Gor, pegangan tangan, melakukan hal-hal yang romantis  kayak remaja jaman sekarang, apa kamu nggak pernah kayak gitu”
“Belum pernah” jawab Difa dengan santai.
“Apa kamu nggak ingin seperti remaja-remaja yang lain yang ingin meramaikan acara malam mingguan”.
“Iya sih, tapi aku juga tau diri. Dia kan anak seorang Kyai Besar yang sangat terhormat, tentu saja dia sebagai anak seorang anak Kyai harus menjaga kehormatan keluarganya. Mungkin  ini konsekuensinya berpacaran dengan anak Kyai dan orang tuanya pun belum tau kalau aku ma dia sudah pacaran”
“Apa?” Orang tua Khafi belum tau kalau kalian berdua pacaran, berarti backstreet dong”
“Hu’umz kan aku udah pernah critain”
“Kapan?” dengan menyodorkan wajah kearah Difa.
“Mungkin kamu lupa”
“Apa iya?”
“Ya sudahlah aku pulang dulu ya, dah dijemput kakakku”
“Hu’umz, aku juga dah dijemput sama kakakku, hati-hati dijalan ya”
“Kamu juga ya”
Keduannya pun pulang kerumah masing-masing, setelah sampai dirumah Difa berkumpul dengan Ibu, Bapak dan Kakaknya diruang tamu. Untuk membicarakan kuliah mana dan jurusan apa yang akan dipilih setelah lulus nanti.
“Pak, Bu, Kak setelah lulus nanti aku mau sekolah di UNIVERSITAS GAJAH  MADA (UGM) di Yogyakarta mengambil jurusan Teknik Informasi”
“Apa ndak kejauhan nak” jawab Ibunya.
“Disanakan nanti bisa tinggal sama Pakde Kasan dan Bude Tentrem” ucap Difa.
“Bapak memperbolehkan kamu untuk kuliah disana asalkan kamu bisa jaga diri baik-baik, jangan pernah tinggalkan sholat dan jangan bandel”
“Bagaimana Bu, setuju apa ndak?” tanya Difa penuh harapan agar Ibunya bisa menyetujui keinginannya.
“Ibu hanya bisa merestui keinginanmu nak, tapi jaga diri baik-baik dan jangan buat Pakde Kasan dan Bude Tentrem merasa kerepotan”
“Oke, Bu aku janji akan jaga diri, tak merepotkan Pakde Kasan dan Bude Tentrem, selalu sholat 5 waktu dan bisa sukses” Jawab Difa sambil tersenyum.
“Nanti kalau kakakmu ini nggak sibuk, insyaallah tak tengok” ucap kakak Difa.
“Beneran lho kak, tak pegang janjimu”
“Pegang aja, nggak bakalan lari kok” Ledeg kakak Difa.
“Ih Kakak”
Devi sangat senang karena kedua orang tuanya setuju dengan keputusannya yang ingin melanjutkan sekolah di UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM), dan mempunyai pacar yang sangat sayang kepadanya. Walaupun tak pernah kontak langsung atau bersentuhan secara langsung dan hanya bertatap muka. Hidupnya terasa bahagia sekali dengan keadaanya yang sekarang.
 Ujian Nasional sudah selesai, tinggal tunggu pengumuman kelulusan. Difa dan Nani merasa jantungnya berdegub kencang ketika memegang amplop putih yang berisi lulus atau tidaknya mereka. Dibukanya perlahan-lahan dan mereka berteriak.
"Aku lulus"
"Dan aku dapat beasiswa ke Universitas Semarang" ucap Nani.
"Aku juga dapat beasiswa ke Universitas Gajah Mada, alhamdulillah  pas juga aku menginginkan kuliah disana dan ternyata aku dapat beasiswa untuk kuliah disana.
"Selamat ya keinginanmu sudah terwujud"
"Makasih sobat, aku pergi dulu ya Ni" ucap Difa dengan wajah penuh gembira.
"Mau kemana"
"Bertemu Khafi"
"Sono temuin kekasihmu" canda Nani.
"Oke-oke, bye"
"Bye"
***
                Difa terburu-buru mencari Khafi untuk menanyakan apakah ia lulus atau tidak. Dia tak sabar untuk bertemu dengan Khafi, yang sedang berada di Taman Sekolah.
                “Khafi, rupanya kamu disini” tanya Difa  “gimana fi kamu lulus nggak”
                “Hu’umz” jawab Khafi.
                “Kenapa sich kamu kok cuex banget”
                “Sebelumnya aku minta maaf, aku mau kita putus”
                Difa kaget “Kenapa? Apa kamu sudah nggak sayang lagi sama aku”
                “Bukan karna itu”
                “Trus karna apa?” air matanya mengalir membasahi pipi,
                “Aku telah dijodohkan oleh kedua orangtuaku dengan teman ayahku”
                “Kenapa kamu baru bilang sekarang, kalau kamu sudah dijodohkan” teriak Difa.
                “Aku tidak mampu mengatakannya kepadamu dan inilah disaat yang tepat aku  bisa mengatakannya”
                “Saat yang tepat untuk meninggalkan aku” ucap Difa.
                “Bukan itu?”
                “Trus kenapa kamu tidak tolak saja keinginan kedua orangtuamu”
                “Aku tak bisa menolaknya karena aku tak ingin durhaka kepada kedua orangtuaku"
Difa diam seribu kata dan tak mampu menahan rasa sakit hatinya kepada Khafi.
Dengan rasa bersalah Khafi meminta maaf kepada Difa.
"Maafkan aku, walaupun aku sudah dijodohkan oleh kedua orangtuaku, tetapi kamu akan tetap selalu dihatiku dan kamu akan tetap menjadi cinta pertamaku"
Dengan rasa berat hati Difa menerima keputusan Khafi.
"Kuterima keputusanmu cinta memang terkadang tak bisa dimiliki dan kebahagiaanmu, kebahagiaanku juga"
"Terima kasih atas semua perhatian dan kasih sayang yang telah kau berikan kepadaku. Satu lagi aku akan melanjutkan kuliahku ke Kairo" ucap Khafi.
Tanpa pikir panjang Difa meninggalkan Khafi yang sedang ada di Taman Sekolah.
Langkah Difa kemudian terhenti ketika ingin melangkahkan kaki menjauh dari Khafi. Dari belakang Khafi berteriak "Maafkan aku Difa".
Difa yang mendengar ucapan itu hanya bisa memberi isyarat huruf O tanpa menoleh kebelakang  yang artinya Tak apa-apa, dengan meneteskan air mata ia berjalan meninggalkan Khafi yang berada di Taman Sekolah. Ruangan demi ruangan telah ia lewati dan  secara tak sengaja Difa bertemu dengan Nani dan secara langsung memeluk Nina.
"Kenapa kamu kok bisa nangis begini" tanya Nani.
"Aku putus sama Khafi"
"Kenapa" Nina kaget mendengar ungkapan dari Difa.
Difa kemudian menjelaskan kejadian tadi kepada Nina.
"Sabar aja ya Dif, mungkin ini cobaan bagimu"
Difa tak menghiraukan perkataan Nina. Dia hanya menangis merenungi atas apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba Difa berkata "Aku besok mau ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah disana" jelas Difa.
"Apa kamu sanggup dan siap untuk pergi" ucap Nina.
"Insyaallah aku sanggup dan siap"
"Ni, apa kamu bisa ikut mengantarkanku ke terminal"
"Maaf ya Dif,  bukannya aku nggak mau, hanya saja aku besok ada acara keluarga. Jadinya nggak bisa"
"Nggak apa-apa kok"
"Aku hanya meminta satu hal dari kamu, jangan membuat masalahmu ini menjadi beban yang sangat berat untuk kamu jalani. Semoga kamu bisa mencari hikmah dari permasalahan ini"
"Makasih sobat, aku sayang sama kamu dan pastinya nanti disana aku akan merindukanmu"
Keduanya berpelukan sebagai pelukan perpisahan.
***
Setelah sampai dirumah, Difa langsung menuju ke kamarnya dan menghidupkan radio. Tak sengaja lagu Tak Berdaya dari Herlena Efendi terputar.
Sudah kehendak takdir kita berdua
Berjumpa dan bercinta terpisah pula
Ayah ibumu sayang telah memilih
Pada jodoh yang lain ku tak berdaya
Ku tak berdaya
Maafkan aku kasih
Bukan aku tak sudi
Menerima cintamu setulus hati
Asal engkau bahagia rela aku melepasmu
Turutilah kehendah orangtuamu
Selamat berpisah sayang kukirim do’a
Semoga kau bahagia sepanjang masa
Sepanjang masa
Difa menangis tersedu sambil menyanyikan lagu itu dengan suara cukup keras. Tiba-tiba ibunya menggedor-gedor pintu kamar Difa.
“Ada masalah apa nak” tanya  ibu Difa penasaran.
“Nggak ada masalah apa-apa Bu” teriak Difa.
“Ya udah kalau gitu, pakaianmu sudah ibu siapkan didalam koper, tinggal barang-barang apa saja yang kamu mau bawa buat besok”
“Ea Bu, makasih” teriak Difa yang berada di dalam kamar.
Dalam keterpurukannya Difa berfikir.  Aku harus kuat jalani hidup ini karena MY LIFE IS MY CHOICE. Walaupun merasa kehilangan sesosok orang yang dicintainya. Difa yakin suatu saat pasti akan mendapatkan orang yang lebih baik dari dia.
Kesunyian malam mewakili keadaan Difa. Dia menatap semua pemberian yang diberikan oleh Khafi. Dalam batinnya Difa ingin menyimpan semua pemberian dari Khafi tapi dia juga ingin mengembalikan semua pemberiannya. Difa bingung, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk mengembalikan semua pemberian dari Khafi.
***
Keesokan harinya sebelum berangkat semua barang pemberian Khafi  dikembalikannya melalui Jasa Pos. Setelah mengembalikan semua pemberian dari Khafi, Difa sesegera mungkin pulang untuk pergi ke Yogyakarta karena hari sudah semakin siang, takut jika ketinggalan bus arah Yogyakarta. Mobil yang dikendarai Difa melaju dengan cepat menuju kearah terminal Yogyakarta.
Sesampainya diterminal Difa memeluk kedua orang tuanya dan kakaknya sebagai pelukan perpisahan.
“Nak hati-hati dijalan, nanti disana jangan lupa hubungi kakakmu jika sudah sampai” Dengan tatapan tak ingin jauh dari putrinya.
Gugurlah tetes demi tetes air mata. Dengan berat hati mengizinkan putrinya untuk mencari ilmu dan cita-citanya.
“Hati-hati nak” ucap Ayah Difa.
“Ea pak” jawab Difa.
“Jangan lupa’in aku ya dek, walaupun aku jarang dirumah dan kita jarang bertemu” pinta kakak Difa.
“Ya kak aku nggak akan lupa dan ku pegang janjimu lho, kalau kamu mau jenguk aku di Yogyakarta”
“Oke” jawab kakak Difa sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
Selangkah demi selangkah Difa menaiki bus arah tujuan Yogyakarta. Dari kaca jendela bus, kedua orangtua dan kakak Difa menangis dan melambaikan tangan untuk Difa. Difa pun menutupi kesedihan saat meninggalkan keluarganya. Dengan cara ia berpura-pura tersenyum kepada kedua orangtua dan kakaknya.
Bus melaju meninggalkan kota Kudus yang penuh dengan kenangan dan kebahagiaan karena
MASA LALU ADALAH KENANGAN
DAN
MASA DEPAN ADALAH TANTANGAN.

3 komentar:

annur Quds mengatakan...

cerita yang benar" berkarakter
bagus, alur cerita tersusun dengan sangat baik
like it ..

Diana Febriani mengatakan...

makasih

profilku mengatakan...

tec kyo kisahku yeee.haha

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews