“Pagi semuanya” ucap Difa menyapa teman-teman
sekelassnya.
“Pagi juga Dif” kata salah satu temannya.
Difa kemudian menuju ke bangkunya yang berada
ditengah.
“Pagi Nani”
“Pagi juga Difa”
“Kamu kayaknya kok gembira emangnya ada apa sih
Dif” tanya Nani kepada Difa
“Nggak ada apa-apa kok” jawab Difa
“Beneran Nggak ada apa-apa?” tanya Nani
penasaran.
“Hu’umz ”
jawab Difa sambil melihat wajah seseorang yang berada dipojok depan
sebelah kanan.
Seseorang itupun tersenyum dengan Difa. Dia
adalah Khafi pacar Difa waktu kelas 1-3 SMK. Khafi adalah seorang anak Kyai
Besar. Sedangkan Difa adalah seorang wanita yang tomboy dan semua laki-laki
dikelasnya takut sama DIfa kecuali Khafi
yang sangat mencintai Difa. Karena dimata Khafi, Difa adalah sesosok
kepribadian yang perhatian kepada teman yang kurang popular dan berbicara
blak-blakan jika itu memang salah,
“Ada PR Nggak
Ni” tanya Difa
“Ada” jawab Nani sambil mencari-cari sebuah buku.
“Yang mana” tanya Difa kebingungan.
“Ini lho PR nya” sambil membuka lembaran-lembaran
halaman.
“Oh ya aku lupa, kalau ada PR Bahasa Inggris, aku
pinjem bentar ya, soalnya aku lupa ngerjain nih” Pinta Difa sambil
merengek-rengek.
“Selalu gitu deh kamu tu, lupa ngerjain kalau ada
PR, kamu tau nggak guru yang ngajar Bahasa Inggris ini killer habissss,
bisa-bisa kalau kamu lupa ngerjain, kamu disuruh lari 100 x”
“Iya deh, makasih ya my friend sudah
mengingatkanku, kamu baik deh, boleh pinjam bukunya nggak” pinta Difa sambil
memohon.
“Maunya”
“Boleh ya???...Please”
“Hu’umz” sambil menyodorkan buku Bahasa Inggris.
“Kamu tu ya selalu membuat aku merasa kasihan”
“Heheheh.. Kamu baik deh”
“Ya dunk, siapa dulu Nani gitu lhoh”
“Huuuuuh , ya deh”
“Hahahahaha”
Keduanyapun tertawa, bercanda bersama mengisi
suasana pagi hari yang indah.
***
Pagi telah berlalu bergantian bergesernya
matahari berada di tengah-tengah, tanda sudah siang dan menunjukkan pukul 12.00.
Tingtongtingtong tanda bel pulang sekolah sudah selesai, murid-murid beserta
guru meninggalkan sekolah kecuali Difa,Nani,Khafi & Dito teman Khafi. Yng
sudah janjian untuk bertemu sepulang sekolah nanti.
“Hei, sini lho” teriak Dito kepada Difa dan Nani.
Difa dan Nani kemudian bergegas menuju kearah
Dito sambil melangkahkan kaki penuh gembira.
“Ada apa kok minta ketemuan disini” tanya Difa
kepada Khafi.
“Aku cuman mau ngasih ini”
“Apa?” Dengan nada suara Difa yang lembut.
“Buka aja”
Devi penasaran dan membuka kado itu “Ah boneka
Angry Bird” Kebahagiaan terpancar diwajah Difa.
“Maakasih ya, I LOVE YOU”
“I LOVE YOU TOO”
“Aku pulang dulu ya, kayaknya aku sudah dijemput
kakakku” Dengan berat hati Difa meninggalkan Khafi.
“Hu’umz, nggak apa-apa, ati-ati dijalan ya”
“Ea, maksih hadiahnya”
“Sama-sama”
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Devi meninggalkan Khafi dan Dito yang berada di
taman sekolah. Setelah berjalan cukup jauh , melewati koridor-koridor
sekolah, Khafi dan Dito sudah tak
terlihat lagi. Terbesit pertannyaan satu demi satu dihati Nani. Nani pun
memberanikan diri untuk memulai percakapan antara dia & Difa.
“Sudah 3 tahun kamu pacaran sama Khafi apa nggak
pernah jalan bareng atau pergi bareng ma dia” tanya Nani.
“Pernah”
“Kapan”
“Waktu bakti sosial kelas 2 dulu, sama waktu
piknik ke Jakarta dulu”
“Bukan yang itu, maksudnya jalan berduaan perrgi
ke Gor, pegangan tangan, melakukan hal-hal yang romantis kayak remaja jaman sekarang, apa kamu nggak
pernah kayak gitu”
“Belum pernah” jawab Difa dengan santai.
“Apa kamu nggak ingin seperti remaja-remaja yang
lain yang ingin meramaikan acara malam mingguan”.
“Iya sih, tapi aku juga tau diri. Dia kan anak
seorang Kyai Besar yang sangat terhormat, tentu saja dia sebagai anak seorang
anak Kyai harus menjaga kehormatan keluarganya. Mungkin ini konsekuensinya berpacaran dengan anak
Kyai dan orang tuanya pun belum tau kalau aku ma dia sudah pacaran”
“Apa?” Orang tua Khafi belum tau kalau kalian
berdua pacaran, berarti backstreet dong”
“Hu’umz kan aku udah pernah critain”
“Kapan?” dengan menyodorkan wajah kearah Difa.
“Mungkin kamu lupa”
“Apa iya?”
“Ya sudahlah aku pulang dulu ya, dah dijemput
kakakku”
“Hu’umz, aku juga dah dijemput sama kakakku,
hati-hati dijalan ya”
“Kamu juga ya”
Keduannya pun pulang kerumah masing-masing,
setelah sampai dirumah Difa berkumpul dengan Ibu, Bapak dan Kakaknya diruang
tamu. Untuk membicarakan kuliah mana dan jurusan apa yang akan dipilih setelah
lulus nanti.
“Pak, Bu, Kak setelah lulus nanti aku mau sekolah
di UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM) di
Yogyakarta mengambil jurusan Teknik Informasi”
“Apa ndak kejauhan nak” jawab Ibunya.
“Disanakan nanti bisa tinggal sama Pakde Kasan
dan Bude Tentrem” ucap Difa.
“Bapak memperbolehkan kamu untuk kuliah disana
asalkan kamu bisa jaga diri baik-baik, jangan pernah tinggalkan sholat dan
jangan bandel”
“Bagaimana Bu, setuju apa ndak?” tanya Difa penuh
harapan agar Ibunya bisa menyetujui keinginannya.
“Ibu hanya bisa merestui keinginanmu nak, tapi
jaga diri baik-baik dan jangan buat Pakde Kasan dan Bude Tentrem merasa
kerepotan”
“Oke, Bu aku janji akan jaga diri, tak merepotkan
Pakde Kasan dan Bude Tentrem, selalu sholat 5 waktu dan bisa sukses” Jawab Difa
sambil tersenyum.
“Nanti kalau kakakmu ini nggak sibuk, insyaallah
tak tengok” ucap kakak Difa.
“Beneran lho kak, tak pegang janjimu”
“Pegang aja, nggak bakalan lari kok” Ledeg kakak
Difa.
“Ih Kakak”
Devi sangat senang karena kedua orang tuanya
setuju dengan keputusannya yang ingin melanjutkan sekolah di UNIVERSITAS GAJAH
MADA (UGM), dan mempunyai pacar yang sangat sayang kepadanya. Walaupun tak
pernah kontak langsung atau bersentuhan secara langsung dan hanya bertatap
muka. Hidupnya terasa bahagia sekali dengan keadaanya yang sekarang.
Ujian
Nasional sudah selesai, tinggal tunggu pengumuman kelulusan. Difa dan Nani
merasa jantungnya berdegub kencang ketika memegang amplop putih yang berisi
lulus atau tidaknya mereka. Dibukanya perlahan-lahan dan mereka berteriak.
"Aku lulus"
"Dan aku dapat beasiswa ke Universitas
Semarang" ucap Nani.
"Aku juga dapat beasiswa ke Universitas
Gajah Mada, alhamdulillah pas juga aku
menginginkan kuliah disana dan ternyata aku dapat beasiswa untuk kuliah disana.
"Selamat ya keinginanmu sudah terwujud"
"Makasih sobat, aku pergi dulu ya Ni"
ucap Difa dengan wajah penuh gembira.
"Mau kemana"
"Bertemu Khafi"
"Sono temuin kekasihmu" canda Nani.
"Oke-oke, bye"
"Bye"
***
Difa
terburu-buru mencari Khafi untuk menanyakan apakah ia lulus atau tidak. Dia tak
sabar untuk bertemu dengan Khafi, yang sedang berada di Taman Sekolah.
“Khafi,
rupanya kamu disini” tanya Difa “gimana
fi kamu lulus nggak”
“Hu’umz”
jawab Khafi.
“Kenapa
sich kamu kok cuex banget”
“Sebelumnya
aku minta maaf, aku mau kita putus”
Difa
kaget “Kenapa? Apa kamu sudah nggak sayang lagi sama aku”
“Bukan
karna itu”
“Trus
karna apa?” air matanya mengalir membasahi pipi,
“Aku
telah dijodohkan oleh kedua orangtuaku dengan teman ayahku”
“Kenapa
kamu baru bilang sekarang, kalau kamu sudah dijodohkan” teriak Difa.
“Aku
tidak mampu mengatakannya kepadamu dan inilah disaat yang tepat aku bisa mengatakannya”
“Saat
yang tepat untuk meninggalkan aku” ucap Difa.
“Bukan
itu?”
“Trus
kenapa kamu tidak tolak saja keinginan kedua orangtuamu”
“Aku
tak bisa menolaknya karena aku tak ingin durhaka kepada kedua orangtuaku"
Difa diam seribu kata dan tak mampu menahan rasa
sakit hatinya kepada Khafi.
Dengan rasa bersalah Khafi meminta maaf kepada
Difa.
"Maafkan aku, walaupun aku sudah dijodohkan
oleh kedua orangtuaku, tetapi kamu akan tetap selalu dihatiku dan kamu akan
tetap menjadi cinta pertamaku"
Dengan rasa berat hati Difa menerima keputusan
Khafi.
"Kuterima keputusanmu cinta memang terkadang
tak bisa dimiliki dan kebahagiaanmu, kebahagiaanku juga"
"Terima kasih atas semua perhatian dan kasih
sayang yang telah kau berikan kepadaku. Satu lagi aku akan melanjutkan kuliahku
ke Kairo" ucap Khafi.
Tanpa pikir panjang Difa meninggalkan Khafi yang
sedang ada di Taman Sekolah.
Langkah Difa kemudian terhenti ketika ingin
melangkahkan kaki menjauh dari Khafi. Dari belakang Khafi berteriak
"Maafkan aku Difa".
Difa yang mendengar ucapan itu hanya bisa memberi
isyarat huruf O tanpa menoleh kebelakang
yang artinya Tak apa-apa,
dengan meneteskan air mata ia berjalan meninggalkan Khafi yang berada di Taman
Sekolah. Ruangan demi ruangan telah ia lewati dan secara tak sengaja Difa bertemu dengan Nani
dan secara langsung memeluk Nina.
"Kenapa kamu kok bisa nangis begini"
tanya Nani.
"Aku putus sama Khafi"
"Kenapa" Nina kaget mendengar ungkapan
dari Difa.
Difa kemudian menjelaskan kejadian tadi kepada Nina.
"Sabar aja ya Dif, mungkin ini cobaan
bagimu"
Difa tak menghiraukan perkataan Nina. Dia hanya
menangis merenungi atas apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba Difa berkata "Aku besok mau ke
Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah disana" jelas Difa.
"Apa kamu sanggup dan siap untuk pergi"
ucap Nina.
"Insyaallah aku sanggup dan siap"
"Ni, apa kamu bisa ikut mengantarkanku ke
terminal"
"Maaf ya Dif, bukannya aku nggak mau, hanya saja aku besok
ada acara keluarga. Jadinya nggak bisa"
"Nggak apa-apa kok"
"Aku hanya meminta satu hal dari kamu,
jangan membuat masalahmu ini menjadi beban yang sangat berat untuk kamu jalani.
Semoga kamu bisa mencari hikmah dari permasalahan ini"
"Makasih sobat, aku sayang sama kamu dan
pastinya nanti disana aku akan merindukanmu"
Keduanya berpelukan sebagai pelukan perpisahan.
***
Setelah sampai
dirumah, Difa langsung menuju ke kamarnya dan menghidupkan radio. Tak sengaja
lagu Tak Berdaya dari Herlena Efendi terputar.
Sudah kehendak takdir
kita berdua
Berjumpa dan bercinta
terpisah pula
Ayah ibumu sayang telah
memilih
Pada jodoh yang lain ku
tak berdaya
Ku tak berdaya
Maafkan aku kasih
Bukan aku tak sudi
Menerima cintamu
setulus hati
Asal engkau bahagia
rela aku melepasmu
Turutilah kehendah
orangtuamu
Selamat berpisah sayang
kukirim do’a
Semoga kau bahagia
sepanjang masa
Sepanjang masa
Difa menangis
tersedu sambil menyanyikan lagu itu dengan suara cukup keras. Tiba-tiba ibunya
menggedor-gedor pintu kamar Difa.
“Ada masalah
apa nak” tanya ibu Difa penasaran.
“Nggak ada
masalah apa-apa Bu” teriak Difa.
“Ya udah kalau
gitu, pakaianmu sudah ibu siapkan didalam koper, tinggal barang-barang apa saja
yang kamu mau bawa buat besok”
“Ea Bu,
makasih” teriak Difa yang berada di dalam kamar.
Dalam
keterpurukannya Difa berfikir. Aku harus
kuat jalani hidup ini karena MY LIFE IS MY CHOICE. Walaupun merasa kehilangan
sesosok orang yang dicintainya. Difa yakin suatu saat pasti akan mendapatkan
orang yang lebih baik dari dia.
Kesunyian malam
mewakili keadaan Difa. Dia menatap semua pemberian yang diberikan oleh Khafi.
Dalam batinnya Difa ingin menyimpan semua pemberian dari Khafi tapi dia juga
ingin mengembalikan semua pemberiannya. Difa bingung, dan pada akhirnya dia
memutuskan untuk mengembalikan semua pemberian dari Khafi.
***
Keesokan
harinya sebelum berangkat semua barang pemberian Khafi dikembalikannya melalui Jasa Pos. Setelah
mengembalikan semua pemberian dari Khafi, Difa sesegera mungkin pulang untuk
pergi ke Yogyakarta karena hari sudah semakin siang, takut jika ketinggalan bus
arah Yogyakarta. Mobil yang dikendarai Difa melaju dengan cepat menuju kearah
terminal Yogyakarta.
Sesampainya
diterminal Difa memeluk kedua orang tuanya dan kakaknya sebagai pelukan
perpisahan.
“Nak hati-hati
dijalan, nanti disana jangan lupa hubungi kakakmu jika sudah sampai” Dengan
tatapan tak ingin jauh dari putrinya.
Gugurlah tetes
demi tetes air mata. Dengan berat hati mengizinkan putrinya untuk mencari ilmu
dan cita-citanya.
“Hati-hati nak”
ucap Ayah Difa.
“Ea pak” jawab
Difa.
“Jangan lupa’in
aku ya dek, walaupun aku jarang dirumah dan kita jarang bertemu” pinta kakak
Difa.
“Ya kak aku
nggak akan lupa dan ku pegang janjimu lho, kalau kamu mau jenguk aku di
Yogyakarta”
“Oke” jawab
kakak Difa sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
Selangkah demi
selangkah Difa menaiki bus arah tujuan Yogyakarta. Dari kaca jendela bus, kedua
orangtua dan kakak Difa menangis dan melambaikan tangan untuk Difa. Difa pun
menutupi kesedihan saat meninggalkan keluarganya. Dengan cara ia berpura-pura
tersenyum kepada kedua orangtua dan kakaknya.
Bus melaju
meninggalkan kota Kudus yang penuh dengan kenangan dan kebahagiaan karena
MASA LALU ADALAH KENANGAN
DAN
MASA DEPAN ADALAH TANTANGAN.


01.33
Diana Febriani


3 komentar:
cerita yang benar" berkarakter
bagus, alur cerita tersusun dengan sangat baik
like it ..
makasih
tec kyo kisahku yeee.haha
Posting Komentar